Menengok Pondok 34 YLBHC

July 7, 2007 at 7:01 pm 1 comment

AKSELERASI percepatan peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM), salah satunya ditekankan pada peningkatan kualitas di bidang pendidikan. Namun begitu, ada segelintir masyarakat yang belum dapat mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya. Salah satu contohnya, anak-anak yang berkeliaran di jalan alias jalanan (anjal).

Di Kab. Cianjur, anjal ini merupakan salah satu komunitas yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bergumul di jalanan dan melupakan dunia pendidikan. Padahal, mayoritas anak jalanan berusia antara 11-18 tahun. Hal tersebut menjadi suatu bukti, peningkatan IPM belum dibarengi pemerataan tingkat pendidikan.

Diakui Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Cianjur (YLBHC), Oden Muharram Djunaedi, S.H., suatu hal yang sangat kompleks, jika berbicara anjal. Bukan hanya di Kab. Cianjur, namun hampir merata di seluruh wilayah di Indonesia. ”Kita cukup prihatin juga dengan situasi seperti ini. Dari data yang tercatat, di wilayah Cianjur saja, ada kurang lebih 200-an anak jalanan,” kata Oden.

Oden menuturkan, bermunculannya anjal di Kab. Cianjur, dilatarbelakangi permasalahan yang bervariatif. Selain berasal dari background keluarga broken home dan kemiskinan, lanjutnya, putus sekolah menjadi faktor yang memunculkan anjal. ”Kebanyakan dari mereka merupakan anak putus sekolah yang tidak mengenyam pendidikan formal. Keluarganya tidak mampu untuk menyekolahkan mereka, hingga akhirnya mereka melampiaskannya di jalanan,” ujarnya.

Dikatakan Oden, YLBHC mencoba mengadvokasi kegelisahan para anjal itu. Pihaknya menginginkan terciptanya ketertiban di kalangan anjal. ”Kita coba membahas dengan rekan-rekan apa yang menjadi advokasi untuk anak jalanan. Bentuk advokasinya cukup sederhana, sifatnya primer yakni mengubah perilaku mereka. Dari yang tadinya berperilaku jalanan, kita ubah menjadi perilaku rumahan,” tuturnya.

Banyaknya anjal yang mengalami putus sekolah hingga mereka tidak bisa mengenyam pendidikan formal, menurut Oden, merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah Kab. Cianjur untuk menanggulangginya. Pemkab, ucap Oden, seharusnya lebih bijak dalam menyikapi adanya anjal. ”Jangan sampai pemerintah memandang sebelah mata terhadap mereka. Pemerintah harus peduli terhadap pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Salah satu faktor mereka mengalami putus sekolah adalah karena keluarganya berada di bawah garis kemiskinan,” katanya.

Oden juga mengatakan, untuk mewujudkan visi dan misi Kab. Cianjur dan mempercepat akselerasi peningkatan IPM, Pemerintah Kab. Cianjur semestinya membuka peluang kepada para anjal untuk bisa memperoleh pendidikan formal maupun nonformal. ”Mereka juga sangat membutuhkan pendidikan. Apalagi salah satu visi dan misi Kab. Cianjur adalah lebih cerdas. Seharusnya, Pemkab tanggap dengan masih adanya masyarakat kalangan grass root yang tidak bisa menikmati dunia pendidikan,” ucapnya.

Oden menilai, Pemkab belum berhasil dalam mengentaskan kemiskinan dan pengangguran di Kab. Cianjur, meskipun ditunjang dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2007 yang tergolong cukup besar. Buktinya, masih banyaknya anjal di jalan. ”Ini merupakan tanggung jawab pemerintah,” tuturnya.

Pelatihan anjal

Berangkat dari keprihatinan terhadap kelangsungan hidup anjal, YLBHC mengadakan pelatihan pendidikan Rumah Olah Mental Pemuda Indonesia (Rompi) kepada 16 anjal. Disebutkan Oden, mereka merupakan anjal yang ditampung YLBHC sejak delapan tahun lalu. ”Keprihatinan itu kita tuangkan dalam bentuk pelatihan kepada sejumlah anak jalanan. Pelatihan lebih ditekankan kepada pengembangan diri dan mengubah perilaku mereka,” sebutnya.

Menurut Oden, dengan adanya pelatihan ini diharapkan para anjal ini dapat memiliki kepercayaan diri tinggi dan bisa hidup mandiri. Pelatihan yang diadakan pihaknya, tukas Oden, salah satu di antaranya ialah pelatihan cara berperilaku. ”Kita juga mengajarkan mereka untuk berjiwa entrepreneur. Kita ajarkan kepada mereka cara berdagang yang benar. Kita peduli dengan keberadaan mereka,” katanya.

Menurut Oden, saat ini anjal sangat rentan mengalami tindak kekerasan, baik yang dilakukan sesama anjal maupun pihak lain. Dia mengatakan, ada tiga macam kekerasan yang kerap dialami anjal, di antaranya kekerasan fisik, seksual, dan emosi (psikologis). ”Kekerasan terhadap mereka harus kita cegah dan harus ditindak pelakunya,” tandasnya.

Rudi Hartono (17), peserta pelatihan mengaku sangat tertarik dengan pelatihan itu. Pasalnya, ia kerap mengandalkan hasil mengamen untuk sekadar mengganjal perut. ”Saya akan manfaatkan pelatihan ini untuk mengembangkan diri lebih baik lagi,” terangnya.

Rudi mengaku terpaksa menjadi anak jalanan karena kedua orang tuanya tidak mumpuni untuk membiayainya sekolah. Dirinya terpaksa tidak sempat mengenyam indahnya dunia pendidikan karena terbentur ekonomi. ”Ini sudah nasib saya, Pak,” ujarnya polos.

Wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Cianjur, Djadjang Sofwan Haris mengatakan, jika memang ada masyarakat yang sosial ekonominya rendah, Dinas P dan K menyediakan jalur pendidikan nonformal. ”Kita punya program Kejar Paket B dan Paket C. Juga ada sekolah rakyat. Jadi tidak ada istilah lagi masyarakat yang tidak sekolah,” terangnya.

Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, ujar Djadjang, telah mengakomodasi hal-hal untuk mengantisipasi masyarakat yang tidak bisa mendapatkan pendidikan. Pendidikan, sambungnya, tidak hanya formal. ”Konsep home schooling diterapkan dalam hal ini. Dibuatnya konsep ini ialah untuk menjaga kemungkinan jika ada anak yang tidak nyaman dengan suasana belajar yang terlalu formal. Kemungkinan, konsep home schooling cocok buat anjal,” tambahnya.

Djadjang mengutarakan, saat ini Dinas P dan K tengah menggenjot percepatan penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) di Kab. Cianjur. Jika pada tahun sebelumnya, tingkat wajar dikdas berada pada posisi 64 persen, saat ini merangkak naik menjadi 79 persen. ”Kenaikan ini cukup signifikan. Kami harapkan, pada tahun 2008 mendatang mencapai 95 persen,” tuturnya.

Diakuinya, target pencapaian penuntasan wajar dikdas 95 persen pada tahun 2008, cukup berat. Namun, lanjutnya, target pencapaian tersebut didukung dana BOS. ”Pemerintah juga telah menyediakan dana bantuan gubernur untuk siswa (Bagus) bagi anak-anak yang tidak mampu untuk sekolah. Melalui Dana Bagus, Cianjur baru mendapatkan jatah kuota sebesar 11 ribu untuk mem-back up anak-anak yang ingin bersekolah. Jadi, ke depannya target pendidikan untuk semua bisa terlaksana sesuai yang diharapkan,” pungkasnya. (PK-4)***

Entry filed under: Berita BLoG. Tags: .

Pekerjaan Sehari-hari – JENUH?! Numpang Promosi..!

1 Comment Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BLoG HiT

  • 11,159 hits

Cianjur BLoG

dzarmono.wordpress.com

%d bloggers like this: