Motif Buruk Pengaturan Beras

November 12, 2005 at 2:21 pm Leave a comment

Bersama saya, Wimar Witoelar. Kita kali ini akan berbicara mengenai agriculture economics (ekonomi pertanian), khususnya isu yang menarik untuk pers dan sebetulnya juga ingin diketahui awam yaitu masalah impor beras. Tetapi sebagai pendahuluan, kalau Anda merasa tidak begitu mengerti mengenai ekonomi pertanian, ekonomi beras, dan sebagainya, jangan takut karena saya juga tidak mengerti dan saya tahu masalah ini sangat sulit. Ini bukan hanya dari segi perhitungannya secara ekonomi politik dan bukan hanya di Indonesia saja. Tetapi di pasar bersama Eropa dan di dalam perundingan organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization — WTO) masalah pertanian selalu menjadi ganjalan terutama antara negara yang mempunyai pertanian dan yang tidak.

Sekarang kita bicara mengenai Indonesia sendiri dan kita akan bicara dengan Dr. Bustanul Arifin yang mendapatkan gelar Ph.D. bidang Resource Economics dari University of Winconsin-Madison, AS. Dia adalah peneliti dan dosen terutama bidang ekonomi politik di Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Lampung, serta dosen tamu di beberapa tempat seperti di Universitas Padjajaran.

Menurut Bustanul, debat yang tidak berujung mengenai perlu atau tidaknya impor beras akibat tidak ada kesamaan pandangan terhadap data produksi dan konsumsi antara Departemen Pertanian, Departemen Perdagangan, dan BPS. Dan, pemburu rente berkolusi dengan pembuat kebijakan memanfaatkan itu karena keuntungannya besar sekali.

Bustanul berpandangan dalam mengambil kebijakan impor beras bukan hanya mengenai perlu impor atau tidak, tetapi perlu melihat pengaruh kepada petani. Impor beras dikhawatirkan membuat petani tidak bersemangat menanam padi. Karena itu, beras adalah salah satu entry point kecil saja yang pada intinya bagaimana meningkatkan kesejahteraan atau memberdayakan petani. Masih banyak entry point lagi karena sekarang kita hanya tinggal tagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena kalau dia ingat salah satu strategi dari ”Triple Tracks Strategy” adalah revitalisasi pertanian.

Pak Bustanul, berdasarkan isu pers yang berkembang sekarang ini, apakah rencana pemerintah untuk menghidupkan impor beras itu memang jadi diadakan atau dibatalkan?

Kalau dugaan saya sudah terjadi impor. Kalau dugaan saya, impor beras sebanyak 70.000 ton itu sudah terjadi dan muncul ke publik karena sejak September 2005 menjadi debat yang tidak berujung dan tidak produktif. Entah siapa yang membodohi masyarakat, dan masyarakat hanya tahu begini jadinya. Sampai hari ini kita baru mendengar statemen (pernyataan-red) resmi dari Menteri Pertanian Anton Apriantono bahwa jangan sampai ada lagi impor beras, sedangkan yang 70.000 ton itu silakan saja. Tetapi tampaknya statemen dari seorang Menteri Pertanian pun tidak cukup. Kita masih perlu mendengarkan pernyataan dari yang mengeluarkan surat keputusan (SK) impor beras yaitu Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu. Saya ingat benar SK-nya yaitu No.5/2005 pada 1 November 2005. Intinya, SK itu memang membolehkan impor. Katanya, untuk menjaga stok (persediaan- red), memperkuat stok nasional, dan segala macam argumen yang bisa dibuat-buat.

Impor itu sudah terjadi atau tidak barangkali di sini bukan isu sentralnya. Tetapi kita ingin mengetahui mengapa orang pernah mengambil kebijaksanaan itu. Misalnya, SK Menteri Perdagangan tadi. Padahal Menteri Perdagangan bukan orang pertanian. Apakah itu dibuat karena memang beliau tidak mengerti seluk-beluk masalah beras atau memang ada argumen yang dipakai sebagai dasar pada waktu itu?

Saya menguping di mana-mana seperti pada saat buka puasa bersama untuk mengetahui apa latar belakangnya sampai ada impor beras. Kemudian ada argumen bahwa itu karena ada perbedaan data seperti produksi dan konsumsi yang bisa dijadikan bahan debat yang tidak berujung itu. Sederhananya, kalau kelebihan produksi maka kita tidak impor beras. Sedangkan kalau sedikit produksi maka kita impor. Dan, untuk sementara ini Depertemen Pertanian, Departemen Perdagangan, dan BPS tidak memiliki kesamaan pandangan mengenai itu.

Pak Bustanul, saya potong di sini. Jadi kalau itu karena perbedaan data, menyedihkan. Tetapi itu lumayan juga karena bukan perbedaan niat, jadi bukan satu crime (kejahatan-red) tapi disinformation (informasi yang tidak disampaikan-red)?

Tetapi bisa juga mengarah ke sana karena lemahnya basis data itu. Mungkin akademisi juga bertanggung jawab mengapa sampai tidak menghasilkan data yang akurat dan itu dimanfaatkan oleh siapa pun. Kalau menurut saya, seperti diungkapkan dalam tulisan saya, rent seeker atau para pemburu rente ini yang ingin memanfaatkan situasi demikian. Mereka para importir beras yang selama puluhan tahun tentu saja menikmatinya.

Tetapi supaya kita tidak menimbulkan riot (kerusuhan-red) terhadap importir beras, pasti itu ada kolusi juga dengan pejabat pemerintah yang membuka celah?

Dugaan saya pasti demikian. Kalau sudah menyangkut kebijakan tidak mungkin tidak ada kolusi. Mengapa demikian? Karena impor beras itu dilarang sampai Desember 2005. Kalau tidak salah, larangan itu mulai September 2004 sampai Februari 2005. Kemudian diperpanjang menjadi Februari sampai Juli 2005, tentunya dengan berbagai macam argumen dan untuk saling menonjolkan partai. Kira-kira seperti itu yang terjadi. Kemudian pada bulan Juli 2005 sudah ada permintaan untuk dibuka dan ditakut-takuti serta diancam akan dilaporkan ke WTO oleh Thailand dan Vietnam. Kira-kira begitu argumennya. Tetapi Pak Anton waktu itu bertahan dan berusaha impor tidak dibuka karena ini bukan sekadar masalah impor tetapi dampaknya tidak terlalu baik. Singkat cerita, sewaktu rapat di kabinet bulan Juli, pihak yang menahan impor masih lebih menang sehingga diperpanjang sampai akhir 2005. Tetapi entah siapa, mungkin pedagang beras atau Bulog atau importir beras, terus-menerus melakukan lobi. Akhirnya pada bulan Oktober, sebelum Lebaran, diputuskan bahwa memang perlu impor.

Kita menyimpang sedikit. Seperti dana kompensasi BBM yang barangkali sekarang semua setuju bahwa itu banyak kelemahannya dan menimbulkan kekacauan. Tetapi kalau kita cek siapa yang mengusulkannya, itu tidak jelas. Dan, lebih penting lagi siapa yang menyetujui juga tidak ada yang mengaku. Di kabinet terjadi saling tunjuk. Dalam hal kebijakan impor beras ini juga saya ingin menanyakan itu. Tetapi sebelumnya supaya fair, saya ingin bertanya mengenai apa atau di mana kontroversi impor beras pada saat ini?

Terus terang kalau impor beras 70.000 ton itu tidak akan membuat kiamat, tidak akan merusak citra Indonesia atau apa pun. Tetapi dalam ekonomi pasar beras itu ada istilah asimetris atau tidak balance antara petani dan pedagang. Pedagang selalu di atas angin. Kita semua tahu, pedagang besar menekan tengkulak, dan kemudian tengkulak menekan petani. Nah, sejak September 2005, ketika impor beras baru menjadi berita dan belum dilakukan, tengkulak sudah menekan harga petani. Nanti ada impor maka tengkulak mengancam tidak membeli gabah petani, maka harga beras turun Rp 100-200. Bagi petani Rp 100-200 cukup besar dan kalau kita berbicara nasional maka Rp 200 dikalikan jumlah gabah 54 juta ton maka jumlah uangnya bisa mencapai Rp 10 trilyun.

Dan, itu terjadi di zaman ketika pemerintah sangat ingin menghemat devisa sehingga sampai menaikan harga BBM dan segala macam. Tetapi uang itu dipakai untuk impor beras dan ini yang kontroversial. Betulkah?

Betul. Dalam hal ini petani yang kita khawatirkan. Kalau sampai petani tidak semangat meningkatkan produksi dan produktivitasnya karena beras hanya dihargai sekian, maka petani akan berpikir untuk apa tanam padi lebih baik tanam yang lain dan itu tentunya bukan menanam ganja. Tapi intinya, kalau mereka sampai ada civil disopinion (penolakan dari masyarakat-red), saya pikir pemerintah juga yang akan sulit. Ini tampaknya tidak masuk dalam perhitungan dalam mengambil keputusan kebijakan itu.

Nah, kebijakan yang aneh ini dan bagi kita tidak logis dibuat oleh orang-orang yang sangat pandai dan cerdas. Berdasarkan pengalaman akademis dan pengalaman Pak Bustanul, mengapa sering ada kesalahan policy (kebijakan-red)? Apa betul karena bodoh atau ada faktor lain?

Mungkin faktor lain. Faktor lain itu bermacam-macam. Oke, kita sudah tahu kualitas dari kebijakan kita itu amburadul. Kalau menurut saya primitif.

Amburadulnya tentu bukan karena orang-orangnya kurang pintar seperti Anda yang Ph.D. dari Madison, AS, dan mungkin lebih kualifikasi dari orang di bagian agriculture di Amerika?

Iya, kalau saya menggambarkannya, para pengambil kebijakan main tembak dulu sedangkan justifikasi belakangan. Nah, kalau seperti itu membodohi, mudah-mudahan itu tidak terjadi lagi. Kalau menurut orang bule, enough is enough. Jadi mengapa saya sampai pada kesimpulan seperti itu, karena rente atau peluang keuntungan impor beras itu menggiurkan sekali, cukup besar. Perhitungannya, harga dunia saat ini sedang tinggi dan terus naik. Jadi tidak layak untuk impor.

Harga beras di dunia itu sekarang 266 dolar AS per ton atau dikonversi ke rupiah menjadi 2.700 per liter dan ditambah biaya dan asuransi angkutan (cost and freight insurance) paling sekitar Rp 2.800 – 3.000 per liter sehingga untuk harga di dalam negeri Rp 3.000 – 3.300 per liter kalau mereka mengikuti harga real. Nah, sekarang berdasarkan berita yang beredar bahwa impor beras 70.000 ton itu dari Thailand dan Vietnam yang secara notabene pada bulan-bulan ini mereka sedang panen. Dugaan saya, Thailand dan Vietnam ingin mengganti stok lama dengan stok baru hasil panen.

Dugaan saya juga bahwa mereka akan membanting harga bukan pada level internasional. Taruhlah membanting harga sampai Rp 2.200-2.400 per liter sehigga kalau dijual di dalam negeri dengan harga Rp 2.500 saja maka keuntungannya sudah Rp 1.000 per kg. Kalau 100.000 ton maka sudah Rp 100 milyar. Kalau 1.000.000 ton sudah Rp 1 trilyun yang didapat para importir beras. Saya pikir itu memang amat sangat menggiurkan.

Ya, jadi soal dagang saja. Untungnya lebih besar daripada membuat talk show?

Betul dan daripada membeli gabah petani. Untuk membeli gabah petani, mereka masih direcokin (diganggu-red) berbagai macam syarat kualitas dan lainnya. Bagi mereka itu tidak menarik sehingga lebih baik mengimpor beras.

Dan dari segi keserakahan yang mungkin menjadi dasar kebijakan yang salah itu, sebetulnya dalam dagang beras, cengkeh, atau apapun motifnya profit dan tidak ada motif policy agriculture. Apakah betul begitu?

Ya, sangat betul. Jadi impor yang sekarang ini sudah terjadi memang agak sulit mencegahnya, tapi minimal kalau memang beras impor itu sudah masuk maka yang lain jangan sampai diteruskan. Saya tahu belum ada keputusan mengenai penghentian impor beras ini. Dalam rapat kerja DPR kemarin, kebijakan menteri perdagangan tersebut dipertanyakan oleh Komisi VI dan diminta kalau perlu kebijakan itu dibatalkan. Tapi sampai sekarang kita belum mendengar keputusan apakah itu akan distop atau diteruskan. Biasanya para pengambil kebijakan itu agak cerdik atau tengil. Dia diam dulu setelah reda baru tiba-tiba impor masuk lagi. Ini namanya membodohi rakyat. Sebetulnya kalau melihat kebijakan larangan impor, bagi saya itu cukup relevan dan cukup elegan. Maksudnya, kalau impor itu dilakukan pada saat kita sedang tidak panen padi boleh saja karena tadi akan membantu melonjakan harga. Tapi kalau impor dilakukan berdekatan atau bersamaan dengan masa panen maka tanpa harus jadi ahli ekonomi itu sudah pasti akan menekan harga petani dan mempersulit kehidupan petani. Ini yang mungkin kita cegah.

Pak Bustanul, apakah ada atau tidak tekanan internasional untuk membuka pintu impor beras?

Dugaan saya pasti ada, tapi tekanannya tidak sekeras dalam negeri. Hanya kecil-kecilan. Ancam-mengancam akan dilaporkan ke WTO, saya pikir itu hal kecil, hal biasa. Dugaan saya, yang menekan adalah dari domestik yaitu yang selama ini telah menikmati rente impor beras itu.

Dan domestik itu juga bukan policy type tapi konflik kepentingan saja. Ini kesimpulan saya. Silahkan dibantah?

Iya, saya pikir itu.

Kembali pada substansi petanian. Orang awam ingin beras murah, lalu mengapa ada mekanisme untuk mempertahankan harga beras dan apakah stock impor itu termasuk di situ?

Begini, harga gabah mohon tinggi tapi harga beras mohon terjangkau. Itu karena sebagian besar petani kita konsumen beras juga. Jadi sekarang margin (selisih-red) antara gabah dan beras itu Rp 1.500 lebih malah bisa sampai Rp 2.000 per liter.

Apakah selisih antara harga gabah dan beras itu ada data perbandingannya dengan Thailand atau Vietnam?

Kalau harga beras Thailand memang lebih mahal dibandingkan beras kita. Tapi yang aneh, harga ekspor beras mereka atau bila kita impor dari mereka maka harganya bisa dibanting murah. Itu ada banyak segmen yang perlu kita bahas nanti. Maksud saya, keuntungan Rp 1.500 itu terlalu besar untuk diambil oleh pedagang, penggiling, dan termasuk Bulog. Keuntungan Rp 800 – 1.000 itu masih cukup memberikan peluang bagi usaha-usaha kecil penggilingan dan seterusnya. Kalau Rp 1.500 membuat petani sering tergencet. Ini karena terkait karakter komunitas pertanian. Kalau harga turun maka cepat tertransmisikan, sedangkan kalau harga naik tidak cepat. Jadi kalau tadi ada ancaman beras impor masuk maka tengkulak sudah mengancam duluan. Tapi kalau tiba-tiba harga beras naik menjadi Rp 3.500 bahkan Rp 4.000 per liter, harga gabah petani tidak akan tiba-tiba naik menjadi Rp 2.000 per liter.

Apakah itu karena petani kurang informasi?

Betul. Itulah asimetris informasi dalam komoditas beras ini. Menurut saya, itu yang perlu segera dibenahi.

Saya kira harus buka web-site saja yang banyak dan petani dikasih kartu warung internet (warnet)?

Betul, bahkan kemarin saya mendengar ada ide dari daerah bahwa petani akan membangun pusat informasi sehingga tidak tergantung melalui siaran harga bahan pokok dari RRI saja. Sekarang mereka sudah akan menggunakan layanan pesan singkat (short message service — SMS) karena SMS sudah bisa sampai ke daerah. Menurut saya, itu cukup bagus dan bisa meningkatkan pendapatan bagian mereka. Intinya, supaya mereka lebih bersaing, supaya lebih akses kepada informasi.

Poin Anda tadi kuat sekali karena sebetulnya informasi yang memberikan kekuatan kepada tengkulak, pada rent seeker. Kalau ada orang yang perlu diperdayakan untuk punya informasi masalahnya jadi ringan. Kalau marginnya itu lebih kecil, apakah masih bisa dipertemukan harga beras yang tarjangkau untuk penduduk dan gabah yang layak untuk petani?

Masih, syaratnya perbaikan teknologi pascapanen dan penggilingan. Dulu ada penelitian Peter Timmer dan saya masih ingat benar karena sewaktu kuliah saya masih pakai yaitu publikasi tahun 1973 yaitu “Choice of Technique in Rice Milling on Java”, kalau tidak salah. Itu tahun 1973 tapi sampai sekarang masih dipakai dan tidak berkembang, sedangkan kita sudah zaman seperti sekarang.

Apakah itu mungkin karena teknik menggiling beras kita sudah tidak bisa diperbaiki lagi?

Bisa, kalau saya membaca pada temuan-temuan baru yang tidak pernah dipakai itu. Banyak ahli-ahli di IPB menghasilkan teknik baru, seperti temuan bagaimana mengurangi susut, meningkatkan kualitas, bahkan sampai membentuk beras dari gepeng dan patah.

Namun sekarang, tapi ini perlu konfimasi di lapangan, ada dugaan bahwa para miller ini, juga dalam tanda kutip, mengubah kualitas beras tergantung suka-suka mereka. Misal, kalau Anda beli beras Cianjur atau Talang Padang maka belum tentu itu beras Cianjur atau Talang Padang karena mereka bisa memasukkan beras ke dalam karung yang mereka inginkan dan ada bahan kimia yang disemprotkan supaya bau wangi. Itu saya lihat sendiri, di suatu tempat di Sumatera. Jadi dengan dikasih wangi-wangi maka orang tahunya itu pasti beras Cianjur padahal bukan. Itu beras IR 64 biasa. Ini segmen baru yang harus segera diamankan.

Pak Bustanul, apakah ada lembaga untuk mengecek kualitas maupun penelitian untuk membantu mengatasi masalah itu?

Tidak, kalau untuk bahan mentah tidak ada. Kalau untuk bahan yang sudah agak diolah ada yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM). Mereka mungkin mempunyai kewenangannya sampai ke bahan mentah, tapi yang jelas mereka tidak pernah melakukan itu. Menurut saya, kalau sudah sampai menggunakan bahan kimia membahayakan juga. Nah, maksud saya peluang-peluang yang kita bicarakan dari awal bahwa walaupun sebesar Rp 800 – 1.000 masih menguntungkan, tolong jangan ditambahkan dengan sampai menipu seperti itu.

CUACA

ACARA TV & RADIO

Radio Global FM 99,15 (LIVE)

Advertisements

Entry filed under: Berita BLoG, CIANJUR ARTIKEL.

Video Porno Cianjur lowongan pekerjaan cianjur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BLoG HiT

  • 11,193 hits

Cianjur BLoG

dzarmono.wordpress.com

%d bloggers like this: