Ikan Bawal Serang Japung di Cirata

May 11, 2004 at 1:21 am Leave a comment

Kabupaten Cianjur|Ratusan petani ikan jaring terapung (japung) di perairan Waduk Cirata Cianjur, mengeluhkan adanya gangguan dari ikan bawal air tawar yang belakangan ini sering merusak jaring ikan sehingga merugikan petani karena hasil panen sering berkurang.

Menurut Abah (40), petani ikan japung di daerah Jatinenggang, belakangan ini ratusan buah jaring ikan milik para petani sering rusak digigit oleh bawal air tawar yang berada di perairan Waduk Cirata. Ikan Bawal ini biasanya menyerang jaring lapisan kedua, dimana para petani menanam ikan jenis nila. Sedangkan pada jaring lapisan pertama, para petani menanam ikan jenis ikan mas sebagai komoditas utama.

Akibatnya, setiap kali panen ikan nila yang dilakukan enam bulan satu kali, jumlah ikan nila yang diternak jauh berkurang dari yang diperkirakan.

“Biasanya setiap kali panen ikan nila, setiap jaring saya bisa menghasilkan 1 sampai 1,5 ton. Tapi dengan adanya serangan ikan bawal, hasil panen bulan ini saja hanya mendapat 400 kg atau kurang dari setengahnya. Dengan harga ikan nila Rp 4000,00 per kg saja berapa kerugian yang kami alami,” ujar Abah yang ditemui di kolam miliknya, Minggu (9/5).

Keberadaan ikan bawal air tawar diperairan Waduk Cirata tersebut, menurut Abah berawal dari adanya sejumlah petani yang mencoba membudidayakan ikan yang mirip dengan piranha di kolam japung. Budi daya bawal sendiri memang cukup menjanjikan, karena selain harganya tidak jauh berbeda dengan harga ikan nila dan ikan mas, bawal memiliki daya tahan yang lebih bagus terhadap penyakit aeromonas yang belum lama ini menyerang ikan di perairan Waduk Cirata.

Namun sayangnya, para petani yang menanam bawal kurang atau tidak memahami sifat dan karakter dari ikan yang diternak mereka. Karena selain tahan penyakit, bawal juga punya sifat yang buas yaitu jika kekurangan makanan maka ia akan memakan segala yang ada, termasuk mengigit ja-ring yang terbuat dari anyaman tambang plastik. Akibatnya, belangan ini dirasakan bukan hanya oleh mereka yang menanam ba-wal saja, melainkan petani yang tidak membudidayakan bawal pun merasakan akibatnya.

Dengan meningkatnya populasi bawal di perairan Cirata yang berada di luar jaring, menyebabkan mereka kekurangan makanan dan menyerang jaring ikan milik para petani dan yang menjadi sasaran tentunya dalah jaring di lapis kedua dimana para petani menanam nila.

Menurut Abah, hal ini diperparah dengan sikap dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Cianjur yang tidak mengambil sikap melihat kejadian seperti ini. Padahal, di tempat lain seperti di daerah Jatiluhur Kab. Purwakarta, Dinas Perikanan setempat telah mengeluarkan larangan kepada para petani japung untuk membudidayakan ikan jenis bawal karena dianggap membahayakan.

“Saya tidak habis pikir dengan sikap dari Dinas Peternakan dan Perikanan Cianjur yang hanya diam saja, padahal setiap tahun menarik retribusi dari para petani. Kalau petani terus merugi seperti ini, apa yang akan mereka dapat,” kata Abah dengan nada emosi.

Abah juga mengungkapkan, setiap dua tahun sekali para petani diharuskan membayar retribusi kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Cianjur sebesar Rp 1.000,00/meter. Jika satu unit japung terdiri dari empat kolam berukuran 7 x 7 meter, maka retribusi yang harus dibayar Rp 196 ribu per unit. (A-104)CIANJUR, (PR).-

Advertisements

Entry filed under: Cianjur News.

Pembangunan Cianjur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BLoG HiT

  • 11,190 hits

Cianjur BLoG

dzarmono.wordpress.com

%d bloggers like this: