Kabupaten Cianjur Semakin Tampak Religius

February 3, 2002 at 2:16 pm Leave a comment

DI era otonomi daerah, yang paling tampak menonjol dari sisi penampilan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, adalah kehidupan beragama. Ini terlihat dari cara pakaian pegawai negeri yang beragama Islam, pria maupun perempuan, menggunakan model yang disepakati sebagai “Islami”.

Muslimah mengenakan jilbab tiap hari, sedang yang Muslim tiap Jumat mengenakan baju model koko atau disebut baju takwa, serta mengenakan kopiah.

Seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur diserukan Bupati Cianjur Ir H Wasidi Swastomo MSi agar mengenakan pakaian islami dan diminta mengajak seluruh lapisan masyarakat yang beragama Islam untuk mengikutinya.

Imbauan seperti itu belum pernah dilakukan bupati sebelumnya. Itu adalah salah satu strategi Wasidi membangun sisi spiritual di daerahnya. Wasidi mengatakan, pembangunan spiritual bidang agama akan berdampak terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Gerakan itu mendorong dan mengajak orang yang beragama Islam menjadi Islam yang sungguh-sungguh.

Melalui Gerbang Marhamah (gerakan pembangunan masyarakat ber-ahlaqul karimah), kata Wasidi, kualitas SDM bisa ditingkatkan. Karyawan diharapkan bekerja sungguh-sungguh, tidak berbohong, dan tentu saja tidak korupsi.

Selain itu, Wasidi juga minta perhatian seluruh pegawai di lingkungan kerjanya memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat dan terus menyosialisasikan gerakan ahlaqul karimah dalam berbagai kesempatan.

Gebrakan peningkatan keberagamaan itu hanya ditujukan untuk yang beragama Islam. Menurut Wasidi, hal itu sudah dibicarakan dengan tokoh agama non-Islam dan mereka tidak berkeberatan.

***

KESAN yang kemudian muncul adalah warna Islam lebih dominan. Apalagi Cianjur sebelumnya sudah mendapat julukan “Kota Santri”, sebuah nama yang menggambarkan banyak santri (pelajar pondok pesantren). Tanpa melihat angka statistik, orang bisa menebak bahwa mayoritas penduduk Cianjur beragama Islam.

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cianjur berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, 99,23 persen dari 1.946.405 penduduk Kabupaten Cianjur beragama Islam. Sisanya, Katolik 0,18 persen, Protestan 0,34 persen, Hindu 0,11 persen, Buddha 0,13 persen, dan lain-lainya 0,01 persen.

Gaung penerapan syariat Islam di daerah ini sempat menye-bar ke seluruh Nusantara. Menteri Dalam Negeri sempat ber-komentar, perempuan dilarang keluar malam di Cianjur. Namun, komentar itu diluruskan Bupati Wasidi, “Tidak benar, ka-lau dikatakan perempuan tidak boleh keluar malam.”

Meski menjadi bahan perbincangan-maklum baru pertama kali-Wasidi yang mendapat dukungan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Islam (LPPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur tetap meneruskan program ini.

Gebrakan Wasidi secara diam-diam dikembangkan di daerah lain. Kabupaten Bandung yang sama-sama berada di Jawa Barat menginstruksikan seluruh perempaun pegawai yang beragama Islam di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung untuk mengenakan jilbab.
***

UPAYA Wasidi mengislamkan orang Islam tampaknya belum menyentuh wilayah “hitam”, dunia kejahatan yang selama ini mewarnai Cianjur. Warung remang-remang yang mengeksploitasi janda muda masih bertebaran di jalur Jonggol- Ciranjang.

Jumlah peristiwa kejahatan yang meliputi pencurian kendaraan bermotor, pencurian pemberatan (maling), pencurian dengan kekerasan (merampok dan menodong), penipuan, penggelapan, dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang, masih menunjukkan peningkatan. Tahun 2000 kejahatan tersebut terjadi 423 kali, sementara tahun 2001 meningkat menjadi 439 kali (kasus). Peningkatan angka kejahatan di Kabupaten Cianjur terungkap dalam laporan akhir tahun 2001 yang disampaikan Kepala Kepolisian Wilayah (Polwil) Bogor Komisaris Besar Nanan Soekarna kepada pers.

Kejahatan itu belum termasuk aksi pembegalan orang tak berdosa di jalur Puncak, Ciloto. Di kawasan ini terdapat sekelompok orang yang membentuk jaringan “begal” dengan sasaran orang-orang yang melintas dengan mobil.

Kelompok “begal” pertama menyemprotkan cairan ke arah roda mobil yang tengah menanjak atau turun. Roda yang terkena cairan mengeluarkan asap. Kelompok penjahat lain berteriak-teriak sambil menunjuk mobil yang mengepulkan asap di rodanya.

Ketika mobil berhenti, ada kelompok lain yang “bertugas” menggiring mobil ke bengkel, dengan mengatakan perangkat rem mobil jebol dan lain-lain. Sampai di bengkel, roda dibongkar dan pengendara mobil “diperas”, dengan mengatakan, harus mengganti bagian onderdil yang rusak.

Padahal, kalau mobil terus melaju, tidak ada masalah dengan asap bikinan penjahat itu. Setiap hari ada saja orang yang menjadi korban kejahatan macam ini. Yang kasihan, penumpang mobil yang tidak tahu. Mereka berloncatan, karena khawatir mobilnya terbakar.

Praktik macam itu sudah menahun, tapi tak ada polisi yang menangkap kelompok penjahat itu dan tak ada pula orang yang paham tentang amar makruf nahi mungkar turun untuk mencegahnya. Kenyataannya, aksi pembegalan seperti itu masih berlangsung.

Bukankah perbuatan yang mengakibatkan orang lain sakit hati di perjalanan itu termasuk perbuatan jahat, dilarang agama, tidak mengenal kasihan, dan akhlak buruk? (M Nasir)

Advertisements

Entry filed under: Cianjur News.

Budi Daya Ikan Mas Bakal Mulus Daftar Politeknik Jawa Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


BLoG HiT

  • 11,188 hits

Cianjur BLoG

dzarmono.wordpress.com

%d bloggers like this: